Selama politik Indonesia masih membutuhkan biaya sebesar sekarang, selama kekuasaan masih dapat dikonversi menjadi akses ekonomi tanpa hambatan berarti, dan selama akumulasi kekayaan tetap terlalu erat bertautan dengan pengaruh politik, korupsi akan terus memiliki alasan struktural untuk bereproduksi apa pun jumlah operasi tangkap tangan yang dilakukan. Maka pertanyaan yang harus kita ajukan hari ini bukan lagi berapa banyak koruptor yang telah ditangkap, melainkan pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman, yaitu apakah kita, sebagai bangsa, benar-benar memiliki keberanian politik untuk membongkar mesin yang terus memproduksi mereka ataukah kita akan terus puas memenangkan perkara hukum satu demi satu, sembari kalah telak dalam perang yang sesungguhnya. (**)
Kritik atas Ilusi Pemberantasan Korupsi di Indonesia









