Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Nama Susanah mungkin tidak pernah masuk dalam percakapan tentang kekuasaan. Ia hanyalah seorang perempuan yang bekerja dengan tangannya, menjahit kain perca demi menyambung kehidupan. Tetapi namanya tiba-tiba disebut Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah pernyataan tentang penghasilan pekerja.
Dari situlah muncul kegaduhan. Nama Susanah disebut, yang kemudian dikaitkan dengan angka Rp700 ribu untuk pekerjaan mengupas bawang. Belakangan, Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, mengatakan bahwa Presiden Prabowo salah baca—yang dimaksud Rp700, bukan Rp700 ribu.
Di sinilah kisah bawang merah menjadi menarik.
Salah membaca angka memang mungkin terjadi. Mata bisa keliru melihat deretan nol. Tetapi publik bertanya: apakah yang keliru hanya angka? Sebab persoalannya bukan semata Rp700 ribu dan Rp700, melainkan juga jenis pekerjaan yang disebut.
Penjahit kain perca dan pengupas bawang bukan dua kata yang mudah tertukar. Keduanya berbeda dalam bunyi, pekerjaan, dan makna.
Maka lahirlah pertanyaan netizen yang sederhana, tetapi telak: “Kalau begitu, jadi pekerja pengupas bawang juga salah baca?”
Pertanyaan itu segera berubah menjadi bahan satire. Dan media sosial, seperti biasa, memiliki cara sendiri untuk mengubah keganjilan menjadi lelucon.









