Ia mengajak masyarakat kembali mengingat pengorbanan para pejuang 81 tahun silam. Banyak di antara mereka gugur, wafat dalam pengasingan, bahkan tidak sempat kembali berkumpul dengan keluarga setelah kemerdekaan diraih.
“Mereka tidak sempat menikmati hasil perjuangannya. Yang menikmati adalah kita yang hidup hari ini, yang bekerja hari ini dan yang bersekolah hari ini,” ujarnya.
Karena itu, kata Thaher, peringatan kemerdekaan tidak boleh terjebak dalam seremoni.
“Di balik warna merah dan putih itu ada darah, ada air mata, ada doa yang panjang dan ada pengharapan yang harus kita tunaikan,” katanya.
Thaher kemudian memaknai Merah Putih dalam konteks kehidupan masyarakat dan pembangunan Maluku Tenggara.
Merah, menurut dia, adalah keberanian dan keteguhan dalam menghadapi tantangan, termasuk keterbatasan anggaran serta dinamika ekonomi dan sosial.
“Keterbatasan tidak boleh melahirkan keluhan. Keterbatasan harus melahirkan kreativitas. Efisiensi bukan berarti berhenti melayani. Efisiensi berarti melayani dengan lebih cermat, lebih tepat dan lebih jujur,” tegasnya.
Sementara putih dimaknai sebagai kesucian dan ketulusan dalam bekerja. Pembangunan, kata Thaher, harus dijalankan dengan hati bersih, tanpa pamrih, dan tanpa mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak.









