Jangan memuji ketangguhan rakyat tanpa mempertanyakan mengapa mereka terus menanggung penderitaan yang semestinya dapat dicegah. Ketangguhan rakyat tak boleh menjadi dalih bagi kegagalan negara.
Cinta tanah air bukan kewajiban untuk selalu memujinya. Kadang-kadang, cinta berarti mengakui bahwa rumah ini terbakar, fondasinya keropos, bahkan ada tangan-tangan yang diam-diam mencuri batu batanya. Diam demi menjaga citra bukan kesetiaan, melainkan pembiaran.
Bencana alam mungkin tak seluruhnya dapat dicegah. Namun, korupsi, keserakahan, dan kelalaian bukanlah takdir. Sebagian air mata negeri ini jatuh bukan karena kehendak alam, melainkan keputusan manusia.
Negeri yang terus berduka masih mungkin bangkit. Tetapi negeri yang kehilangan rasa bersalah atas penderitaan yang diciptakannya akan kehilangan kompas moralnya—dan alasan untuk bisa bertahan. (**)










