Adapun, dalam buku Metode-Metode Mengajar Perspektif Al-Qur’an Hadits dan Aplikasinya dalam Pembelajaran PAI karya H. Amirudin, Ibnu Katsir mengartikan ulul albab sebagai orang yang memiliki akal sempurna dan kecerdasan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebut ulul albab sebagai orang-orang yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keimanan yang kuat serta kebijaksanaan dalam melihat dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan akalnya untuk merenungi ciptaan Allah SWT dan mengambil pelajaran darinya.
Sebagaimana yang tertulis dalam surah Ali ‘Imran ayat 191,
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Arab-Latin: alladzina yażkurụnallāha qiyāmaw wa qu’ụdaw wa ‘alā junụbihim wa yatafakkarụna fī khalqis-samāwāti wal-arḍ, rabbanā mā khalaqta hāżā bāṭilā, sub-ḥānaka fa qinā ‘ażāban-nār
Artinya: (Ulul albab), yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.”









