Pulang

oleh -242 views

Alena melepaskan pelukannya. Aisya telah menghapus cemberut dari wajahnya. Sepertinya dia tahu kapan ia mendapatkan hadiah yang sama. Alena menarik pita merah muda dengan hati-hati. Sebuah Al Quran berhias sebuah nama Alena Syahri Maulidah dengan warna kesukaannya, merah muda. Persis janji ibu kala itu.
“Adek akan segera mendapatnya juga.” kata ibu pada Aisya sambil memeluknya menghapus iri yang sempat terlihat dari raut wajahnya.
“Adek mau warna ungu.” ucap Aisya manja.
“Semoga ada ya. Kalau enggak ada…”
“Warna hijau juga boleh.” tugas Aisya.
Ibu tersenyum simpul. Adik bungsuku ini memiliki banyak persamaan sifat dengan ibu.

Ibu menjelaskan fitur pada Al Quran penuh warna itu pada Alena kemudian membaca Al Quran seperti biasanya. Aku mengakhiri bacaanku. Kutaruh Al Quran ku di tempatnya. Perutku sudah tak mau menunggu lagi. Kubuka tudung saji di ruang tengah. Alena dan Aisya sudah siap di tempat. Ibu tersenyum menghampiri kami.
“Terima kasih sudah menunggu ibu.” ucapnya sambil mengacak rambutku.
Kami makan malam dengan tenang. Terkadang aku rindu disuapin ibu. Pasti kalian bilang aku tak tahu malu bukan? Tapi percayalah saat-saat seperti itu sangat manis. Ibu menyuapi kami bertiga. Alasannya tidak terlalu banyak mencuci piring dan acara makan cepat selesai.

No More Posts Available.

No more pages to load.