Cerpen Karya: Dino Umahuk
Konon, setiap sore seorang pemuda datang ke pantai di kaki Kadaton Ternate. Ia membawa sepotong bambu, tempurung kelapa, dan sehelai kain tua. Dengan sabar ia menumpuk pasir basah, membentuk menara, gerbang, dan halaman, hingga menjelma sebuah istana kecil yang menghadap Gunung Gamalama.
Anak-anak kampung menganggapnya sedang bermain.
Orang-orang tua hanya menggeleng.
“Kasihan Jauhar,” kata mereka. “Sudah dewasa masih membangun istana pasir.”
Tak seorang pun tahu, setiap butir pasir yang disentuhnya adalah doa yang tak pernah berani ia ucapkan.
**
Jauhar bukan bangsawan.
Ayahnya seorang nelayan di pesisir Dufa-Dufa. Ibunya menjual ikan asap di pasar Gamalama. Sejak kecil ia mengenal laut lebih dahulu daripada huruf. Ia belajar membaca dari guru mengaji, lalu mencintai syair dari seorang tabib tua yang sering melantunkan hikayat tentang Ternate, Tidore, dan pelayaran rempah.
Dari tabib itulah ia belajar satu hal.
Ada cinta yang cukup disimpan di dada.
Sebab bila dipaksakan menjadi milik, ia hanya akan berubah menjadi petaka.
Namun nasihat itu terlambat datang.
Ketika Jauhar melihat Putri Taranoate untuk pertama kalinya, ia tahu hidupnya tak akan pernah sama lagi.
**
Hari itu Kadaton membuka halaman untuk rakyat.









