Oleh: Smith Alhadar, Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)
Sejak dilantik sebagai Presiden, 20 Oktober 2024, saya tak punya ekspektasi tinggi pada Prabowo Subianto. Setelah memimpin lebih dari setahun, ekspektasi saya anjlok ke titik nadir. Ternyata beliau tidak menjanjikan apapun kepada kita.
Lemahnya leadership, keacakan berpikir, kehadiran deep state yang dikendalikan pihak eksternal, dan konflik kepentingan menyebabkan Prabowo terkurung dalam labirin politik-ekonomi negara tanpa harapan adanya jalan keluar.
Dalam konteks ini , kebijakan-kebijakan nasionalistik-impulsifnya tidak dapat menjawab realitas politik-ekonomi internal yang berkelindan dengan dinamika geopolitik dan geoekonomi global yang unpredictable.
Bencana banjir bandang di Sumatera, yang menghempaskan masa depan jutaan orang di kawasan itu dan melukai hati seluruh anak bangsa, mestinya menjadi peluang bagi Prabowo untuk membuktikan kecintaannya pada Indonesia.
Yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah lamban dan setengah hati dalam meresponsnya. Bahkan terkesan pemerintah meremehkan bencana itu. Kepala Badan Nasiopnal Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyatakan netizen membesar-besarkan skala kerusakannya.









