Setahun Kei Book Club: Merawat Ruang Kecil Bernama Literasi

oleh -103 Dilihat

Oleh: Hesdo Celvin Naraha, Sekretaris Kei Book Club

Literasi tidak pernah benar-benar menjadi kemewahan, kecuali ketika kita menganggapnya harus menunggu fasilitas yang sempurna, anggaran yang besar, atau institusi yang mapan.

Di banyak tempat, kerja literasi justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana: sudut rumah, teras, ruang kelas, warung kopi, hingga layar telepon genggam. Ia dikerjakan oleh orang-orang yang sering kali tidak mendapatkan imbalan finansial, tetapi memilih menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan pengetahuan.

Di situlah nilai utama gerakan literasi: kepedulian.

Seorang pegiat literasi mungkin tidak memperoleh kekayaan material dari buku yang dibagikannya. Namun ada kekayaan lain yang lebih sulit dihitung: kebermaknaan. Ketika seseorang menemukan buku yang mengubah cara pandangnya, ketika percakapan membuat orang berani berpikir, atau ketika pengetahuan berpindah dari satu kepala ke kepala lain, di situlah kerja literasi menemukan maknanya.

Baca Juga  232 Kilogram Merkuri Diduga Hilang dari Kodim Ambon, Pangdam Pattimura Didesak Usut Dua Oknum Anggota

Karena itu, pegiat literasi sesungguhnya adalah semacam filantrop pengetahuan.

Dari Buku ke Ruang Perjumpaan

Dalam konteks itulah perjalanan Kei Book Club (KBC) di Kepulauan Kei patut dilihat.

KBC tidak lahir dari sebuah lembaga besar. Ia bermula dari agenda sederhana bernama “Sebulan Cerita Buku”, yang digagas Hesdo Naraha dan Susan Renel pada Mei–Juni 2025 melalui Instagram. Selama tujuh pekan, 14 pencerita membagikan 14 judul buku.

No More Posts Available.

No more pages to load.