Slepet Cak Imin, Taubat Nasuha dan Sensitivitas Kekuasaan

oleh -9 Dilihat

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Muhaimin Iskandar–biasa dipanggil Cak Imin–selalu punya gaya unik: wajah ramah, bahasa lunak, tapi kalimatnya suka menyenggol hati orang seperti cubitan kecil yang datang tanpa peringatan.

Kali ini ia menyampaikan kritik dengan gaya khasnya, seperti orang menawari gorengan–hangat, gurih, tapi mengandung minyak panas di dalamnya.

Slepetannya sering lebih makjleb ketimbang pidato panjang pejabat yang menggelegar.

Ketika ia mengirim “surat taubat nasuha” kepada tiga menteri—Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM); Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan; Hanif Faisol Nurrofiq, Menteri Lingkungan Hidup—ia menyampaikannya pada momen yang sebenarnya tidak bisa dianggap remeh: saat Sumatera baru saja diguncang banjir bandang dan longsor, dengan korban jiwa serta kerusakan ekologis yang mencolok.

Baca Juga  Warga Laporkan Dugaan Penipuan Modus Proyek Dinas Pendidikan Maluku ke Polda

Dalam situasi seperti itu, ajakan “taubat nasuha” bukan sekadar petuah moral, tetapi sebuah sindiran tajam terhadap pengelolaan lingkungan dan tata ruang yang selama ini dibiarkan berjalan seperti kereta tanpa masinis.

Ia menyebutnya pelan, sopan, tak berlebihan. Hanya ajakan untuk benah diri, semacam “Pak, Bu, mungkin ada bagian hidup yang perlu disapu ulang.”

No More Posts Available.

No more pages to load.