Slepet Cak Imin, Taubat Nasuha dan Sensitivitas Kekuasaan

oleh -9 Dilihat

Kalau sampai begitu, kita butuh kementerian baru: Kementerian Urusan Taubat dan Lembar Pengakuan Dosa Berjenjang.

Padahal slepet Cak Imin itu sederhana. Seperti tepukan di bahu. Namun tepukan lembut bisa terasa seperti tamparan hanya bagi mereka yang sedang memikul beban yang tak mau diakui. Orang yang bahunya sehat biasanya tidak merasakan apa-apa.

Publik justru tersenyum geli. Mereka bertanya dalam hati:
Apa yang membuat politisi tersinggung? Isinya? Atau kejujurannya?

Sering kali, yang membuat marah bukanlah kritikan itu sendiri, tetapi kenyataan pahit bahwa kritikan itu tepat sasaran.

Di sisi lain, Cak Imin berlagak santai. Ia tidak perlu menambah bahan bakar, tidak ikut berdebat panjang.

Baca Juga  Pemkab Malra Dorong Hilirisasi Kelapa, Tak Lagi Sekadar Jual Kopra

Ia seperti orang yang selesai menyebut satu kalimat, lalu duduk sambil menyeruput kopi hangat tanpa gula. Ia tahu bahwa slepetannya bekerja pelan-pelan—bukan menghancurkan orang, tapi membuka cermin di depan mereka.

Dan yang paling lucu adalah fokus para politisi ini: mereka sibuk mempertanyakan siapa yang boleh mengingatkan, bukan apa yang diingatkan.

Seakan-akan moralitas punya badge VIP dan hanya boleh diucapkan pada jam tertentu oleh orang tertentu dengan posisi tertentu.

Padahal di kehidupan sehari-hari, kalimat seperti itu bisa datang dari siapa saja: tetangga yang baik, tukang sayur, guru ngaji, atau anak kecil yang baru pandai mengeja. Siapa saja bisa mengingatkan siapa saja. Itu prinsip dasar manusia, bukan birokrasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.