Karena itu, Gerakan Cegah Stunting diminta tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Gerakan tersebut harus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan organisasi perangkat daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah ohoi, TP PKK, kader Posyandu, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga keluarga.
“Pencegahan stunting harus menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat dalam memanfaatkan kekayaan pangan lokal dan memperkuat peran keluarga serta Posyandu,” tegas Thaher.
Selain pembekalan kader dan kampanye pencegahan stunting, kegiatan di Elat juga dirangkaikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menghadirkan sejumlah dokter spesialis.
Pelayanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses kesehatan bagi masyarakat di wilayah Kei Besar.
Kegiatan menjangkau enam wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Elat, Matahollat, Ohoiel, Larat, Mun dan Hollat.
Thaher berharap kolaborasi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah ohoi, keluarga dan masyarakat terus diperkuat.
Dengan begitu, capaian penurunan stunting tidak hanya dipertahankan pada angka 10,25 persen, tetapi terus ditekan melalui intervensi yang konsisten hingga tingkat keluarga dan ohoi.
(red/mcmalra/adolof)









