Namun, capaian tersebut, kata dia, bukanlah tujuan akhir. Golkar perlu terus memperkuat fondasi organisasi jika ingin melangkah lebih jauh dalam kontestasi politik ke depan.
Ia menekankan pentingnya konsolidasi hingga ke tingkat desa, serta kaderisasi yang mampu melahirkan figur-figur yang dekat dengan rakyat.
“Kehadiran kita harus terasa—bukan hanya saat pemilu, tetapi dalam setiap denyut kehidupan masyarakat,” katanya.
Menurut Umar, kemenangan sejati tidak semata diukur dari jumlah kursi legislatif, melainkan dari besarnya kepercayaan publik terhadap partai.
Nilai Budaya sebagai Fondasi Perjuangan
Dalam kesempatan itu, Umar juga mengangkat nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Tanimbar sebagai inspirasi dalam membangun politik yang beretika dan berkeadaban.
Ia menyebut falsafah hidup Duan Lolat sebagai cerminan keseimbangan antara hak dan kewajiban, yang selaras dengan semangat pengabdian Partai Golkar.
Selain itu, nilai persaudaraan dalam ungkapan “Mwaflak Ma Ku Fai, Mose Ma Kweban” serta tradisi gotong royong Kidabela dinilai sebagai kekuatan sosial yang harus dijaga dan dijadikan pijakan dalam membangun kebersamaan.
“Tidak ada pekerjaan besar yang bisa diselesaikan sendirian. Dalam kebersamaan, kekuatan kita bertumbuh,” ujarnya.











