Seorang personel militer AS bahkan mengungkapkan bahwa jet tempur F-5 Iran sempat menjalankan misi serangan ke sekitar pangkalan.
“Begitu dekat dengan kami sampai-sampai saya bisa melihat helm mereka,” ujar personel tersebut kepada CBS News.
Dihantam Rudal dan Drone, Pasukan AS Kekurangan Amunisi
Sebelum perang pecah, sebagian besar dari sekitar 7.000 tentara AS yang ditempatkan di Camp Buehring sebenarnya telah dipindahkan ke lokasi lain.
Pentagon menyebut strategi tersebut sebagai “get off the X”, yakni upaya memindahkan personel dari posisi tetap yang dianggap rentan terhadap serangan balasan Iran.
Namun, sekitar 100 personel masih bertahan di Camp Buehring untuk menjaga dan mempertahankan instalasi militer tersebut.
Mereka kemudian harus berulang kali berlindung di bunker ketika serangan rudal dan drone Iran menghantam pangkalan. Situasi semakin sulit karena pasukan yang bertahan dilaporkan mengalami kekurangan sejumlah amunisi penting, termasuk rudal pencegat Patriot.
“Mereka menghantam kami dengan parah. Itu mengerikan… Kami harus meninggalkan pangkalan,” kata seorang personel militer AS kepada CBS News.
Pada akhirnya, pasukan yang tersisa meninggalkan Camp Buehring dan membangun sejumlah pos operasi terdepan sementara di kawasan gurun Kuwait. Mereka bertahan di lokasi tersebut selama berminggu-minggu.









