Di sisi lain, stadion itu juga menjadi tempat berlindung sementara bagi warga Palestina asal Gaza yang terjebak di Tepi Barat sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023.
Manajer stadion mengungkapkan bahwa sebagian dari mereka kini tinggal di ruang ganti.
“Mereka tidak berani kembali ke Gaza karena situasi masih berbahaya, jadi untuk sementara bertahan di sini,” ujarnya.
Kompetisi Terhenti, Harapan Tetap Ada
Federasi Sepak Bola Palestina memutuskan menghentikan kompetisi liga selama konflik berlangsung. Situasi keamanan yang tidak menentu, operasi militer, penangkapan, hingga banyaknya pos pemeriksaan membuat penyelenggaraan kompetisi hampir mustahil dilakukan.
Sejumlah stadion yang sebelumnya ramai kini terlihat sepi dan kurang terawat. Namun, latihan tetap digelar di beberapa lokasi, termasuk Stadion Internasional Faisal Al-Husseini di Al-Ram yang menjadi markas tim nasional.
Karena alasan keamanan, pertandingan kandang Palestina harus dipindahkan ke luar negeri, seperti Yordania, Qatar, dan Malaysia. Dukungan juga datang dari FIFA dalam bentuk pendanaan bagi federasi sepak bola Palestina.
Di tengah kondisi tersebut, sepak bola tetap menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk menjaga semangat hidup.
“Latihan ini bukan hanya soal olahraga, tapi juga cara kami merasa normal kembali,” kata seorang pelatih lokal.










