Weda, Lain Dulu-Lain Sekarang

oleh -113 Dilihat

Oleh: Alghazaly Said, Penggiat Literasi

Tiga puluh tahun lalu, jalan di sekitar Bukit Loiteglas masih dikelilingi soki dan rawa. Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur. Di Kilo 8, perjalanan bisa berhenti total. Pilihannya sederhana: dikerek atau pulang dan menunggu jalan mengering.

Menuju ibu kota Halmahera Tengah ketika itu bukan sekadar soal jarak. Ia adalah soal keterisolasian.

Waktu tempuh panjang, biaya mahal, akses terbatas. Sebuah daerah yang kaya sumber daya harus menerima kenyataan bahwa untuk bergerak saja diperlukan perjuangan.

Hari ini, Weda bukan lagi Weda yang itu.

Jalan telah terbuka. Kota berkembang. Perkantoran, hotel, rumah sakit, permukiman, listrik, air bersih dan berbagai fasilitas publik tumbuh. Tetapi perubahan terbesar datang dari arah yang sebelumnya mungkin sulit dibayangkan: industri nikel dan hilirisasi.

Baca Juga  Sopi Keluar dari Bayang-bayang Razia, Akademisi Dorong Regulasi dan Pabrikasi

Kawasan Industri Weda Bay kini menjadi bagian penting dari rantai industri nikel dan ekosistem kendaraan listrik. Hingga awal 2025, nilai investasi di kawasan itu disebut telah mencapai sekitar US$15 miliar atau sekitar Rp240 triliun.

Angka tersebut bukan sekadar statistik.

Ia menunjukkan bahwa Weda telah bergeser dari sebuah wilayah yang berjuang keluar dari keterisolasian menjadi salah satu titik penting pertumbuhan industri nasional.

No More Posts Available.

No more pages to load.