Pernyataan tersebut muncul menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober.
Di tengah kampanye politik itu, posisi Smotrich justru menghadapi tantangan elektoral. Jajak pendapat yang diterbitkan harian Israel Maariv pada Jumat menunjukkan Partai Zionisme Religius berpotensi tidak memperoleh satu pun kursi Knesset apabila pemilu digelar saat ini.
Sementara itu, Tepi Barat terus mengalami eskalasi. Penggerebekan militer Israel dan serangan pemukim terhadap warga Palestina meningkat sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023.
Dengan rencana baru tersebut, persoalan permukiman tidak lagi hanya menjadi isu di Tepi Barat. Agenda perubahan demografi kini secara terbuka diarahkan pula ke Negev dan Galilea, dua kawasan yang selama ini menjadi titik penting dalam perebutan ruang, tanah dan identitas di Israel.
Bagi para pengkritiknya, rencana itu bukan sekadar program pembangunan atau migrasi penduduk. Ia merupakan bagian dari agenda politik yang menggunakan perencanaan wilayah, penguasaan tanah dan perubahan komposisi penduduk sebagai instrumen untuk memperkuat dominasi Yahudi di kawasan-kawasan strategis Israel.
sumber: sindonews









