Porostimur.com, Jakarta – Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Ritmenya berubah, waktu terasa lebih tertata, dan hati cenderung lebih peka. Namun, tidak semua orang benar-benar menjadikannya sebagai momentum perubahan. Ada yang sekadar menjalani rutinitas tahunan tanpa makna yang mendalam. Padahal, Ramadan bisa menjadi titik balik yang menguatkan hidup jika dijalani dengan sikap yang tepat.
Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari langkah yang rumit. Justru, ia lahir dari sikap sederhana yang konsisten dijaga. Berikut empat sikap sederhana yang dapat membuat Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga fase penguatan diri yang nyata:
1. Menata Niat dengan Jujur, Bukan Sekadar Mengikuti Tradisi

Banyak orang berpuasa karena sudah terbiasa. Lingkungan melakukannya, keluarga melakukannya, dan itu terasa wajar. Namun, Ramadan akan terasa berbeda ketika dijalani dengan niat yang benar-benar disadari.
Menata niat berarti bertanya dengan jujur: apa yang ingin diperbaiki dalam diri? Apakah ingin lebih sabar? Lebih disiplin? Lebih dekat dengan Tuhan? Atau ingin meninggalkan kebiasaan yang selama ini merugikan diri sendiri?
Ketika niat menjadi jelas, setiap aktivitas di bulan Ramadan memiliki arah. Bangun sahur bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi latihan komitmen. Menahan lapar bukan hanya rutinitas, tetapi latihan pengendalian diri. Membaca Al-Qur’an bukan hanya target khatam, tetapi upaya memahami dan menenangkan hati.









