Porostimur.com, Jakarta – Pemerintah menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia menembus sedikitnya USD45 miliar pada 2026. Target ambisius ini bertumpu pada kebijakan hilirisasi yang dinilai berhasil meningkatkan nilai ekonomi komoditas nikel, dari sekitar USD3,3 miliar pada 2017–2018 menjadi lebih dari USD40 miliar pada 2025.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan hilirisasi menjadi strategi penting untuk memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap ekspor bahan mentah.
Hal tersebut disampaikan Bahlil saat mewakili Presiden RI Prabowo Subianto membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10/2026).
Menurut Bahlil, kebijakan penghentian ekspor bijih nikel mentah yang diikuti pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri telah mendorong peningkatan signifikan nilai ekspor komoditas tersebut.
“Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar Bahlil.
Ia memaparkan, nilai ekspor nikel Indonesia yang sebelumnya berada di kisaran USD3,3 miliar pada 2017–2018 meningkat menjadi USD34 miliar pada 2023. Angka tersebut kembali melonjak hingga melampaui USD40 miliar pada 2025.









