“Sekar…”
“Iya ma?”
“Kalo misalnya mama ngga bisa nemenin Sekar lagi, Sekar sering sering main ke makam mama biar mama ngga kesepian ya..” Ucap Lia yang tersenyum tipis.
Sekar yang akan melahap sepotong brownies pun langsung diletakkan kembali.
“Ma, mama kok ngomongnya gitu? Sekar takut ma, Sekar ngga mau kehilangan mama.. Sekar butuh mama”
“Iya sayang, insyaallah mama selalu ada disamping Sekar.”
Seminggu kemudian, Lia masuk rumah sakit lagi. Keadaannya sangat memprihatinkan, badan Lia sangat lemas dan muka Lia sangat pucat. Terdapat selang selang dan alat alat lainnya yang berada disamping Lia. Kondisi Lia setengah sadar dengan mata yang berat untuk dibuka.
“Mama ngga boleh kaya gini mama harus sembuh!!” Tangis Sekar sambil memegang tangan Lia.
“Ma, mama janji kan bakal nemenin Sekar sampai Sekar SMA? sampai Sekar sukses? Mama harus kuat maa”
“Sekar sayang… mama minta Sekar selalu nyiramin anggrek pemberian Sekar untuk mama ya, jangan sampai mati.. Kalo Sekar kangen mama, Sekar liat bunga anggrek yang mama rawat.. maaf Sekar mama punya banyak salah sama Sekar, selalu ngerepotin Sekar.. mama sayang sekar”
Mata Lia tertutup, detak jantung Lia berhenti yang menandakan Lia tertidur untuk selama lamanya.
“MAMAAAAAAA” Teriak Sekar.
“Mama bangun mamaa, jangan tinggalin Sekar sendirii!!”









