Menunggu Diri Sendiri
lelaki itu bukan mengirim mimpi
ia sendiri yang terkirim tanpa arah
laut naik bukan sebagai ombak
melainkan sebagai ingatan yang lupa tubuh
ia mabuk—bukan oleh angin
tetapi oleh jarak dari asalnya
segala isyarat yang ia dirikan
hanyalah gema dari dirinya sendiri
mercusuar itu tidak memanggil siapa pun
ia hanya menyala untuk yang belum pulang
perahu kekasih tak pernah dibelokkan angin
ia tak pernah berangkat dari yang satu
lelaki itu menggigil di pulau
padahal pulau itu adalah dadanya sendiri
ia menunggu—
bukan seseorang, bukan waktu
ia menunggu “aku” runtuh
agar laut kembali menyebutnya satu
badai tidak membawa siapa-siapa
ia hanya membuka yang selama ini tertutup
dan ketika semua hilang—
yang tersisa bukan lelaki, bukan pulau
melainkan satu sunyi
yang tidak lagi membutuhkan kembali
Ambon, 9 Mei 2026
==============
Lenso Putih: Sirr al-Rujū‘
lenso putih itu bukan kain—
ia sirr yang berkibar tanpa angin.
di sana rindu berzikir tanpa lidah,
memanggil yang hilang dari asalnya.
engkau lari dari laut,
padahal laut adalah dirimu sebelum nama.
setiap ombak menyeru “pulang”,
namun telingamu masih penuh dirimu.
percuma engkau menyebut diri sufi,
jika huruf belum gugur dari dada.
jalan ini bukan dilalui kaki,
melainkan oleh runtuhnya “aku”.
“Pulanglah”—bukan suara perempuan,
melainkan seruan dari Yang Tak Terpisah.
ajal bukan akhir perjalanan,
ia hanya pintu bagi yang lupa pulang.









