Bebek Amerika

oleh -141 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Puasa identik dengan menahan lapar, haus, dan godaan duniawi. Namun di negeri +62, puasa tahun ini tampaknya akan ditambah satu jenis ibadah baru: menahan kaget membaca dokumen perjanjian dagang AS-Indonesia.

Bukan karena isinya haram, melainkan karena efek sampingnya bisa membuat tekanan darah geopolitik naik turun seperti harga cabai menjelang lebaran.

Kita punya pimpinan berlatar militer, retorikanya menggelegar seperti meriam upacara 17 Agustus, sorot matanya tajam bak naga penjaga harta karun, tetapi ketika berhadapan dengan teks perjanjian 45 halaman, sikap negara mendadak lembut seperti bebek yang baru keluar dari kolam.

Dokumen ini bukan sekadar soal tarif. Ia menyentuh arah geopolitik, keamanan teknologi, hingga posisi Indonesia dalam orbit kekuatan global. Mari kita mulai bedah, dalam artikel yang mungkin berseri-seri karena masalah yang dikandung dokumen perjanjian banyak. Mulai yang pertama.

Baca Juga  Wamen ATR/Waka BPN Apresiasi Peran Strategis MAPPI dalam Sistem Penilaian Nasional

Yang paling jarang disorot publik adalah bahwa perjanjian dagang AS-Indonesia ini tidak hanya bicara perdagangan. Ia memasukkan keselarasan keamanan ekonomi dan geopolitik ke dalam teks yang judulnya terdengar ramah: reciprocal trade.

Salah satu pasal kunci dokumen perjanjian itu menyatakan: “Indonesia shall adopt or maintain a measure with equivalent restrictive effect as the measure adopted by the United States…”

No More Posts Available.

No more pages to load.