“Gue sayang banget sama lo Yes, sampai kapanpun gue tetap sayang sama lo, meskipun lo bakalan jadi milik orang lain. Gue bakalan bahagia kalo lo juga hidup bahagia.” Ucapku. Dia semakin terisak menangis.
“Sebelum gue pergi, biarkan gue memeluk lo Yes.” Ucapku memberanikan diri. Dia berusaha menghapus air matanya. Dia mengangguk. Aku seketika langsung memeluknya. Erat sekali. Dia balas memelukku sambil terisak menangis di dadaku. Jikalau aku tak memikirkan segalanya, aku berani bersumpah kalau aku tidak akan melepaskan pelukanku sampai kapanpun.
Pelukan ini terasa sangat hangat. Sangat menenangkan. Separuh hatiku terisi oleh kebahagiaan yang membuncah, sedangkan sebagian yang lain menjadi terasa sangat sakit. Mengingat aku tidak akan mungkin memeluknya lagi setelah dia menjadi milik orang lain.
Isak tangisnya masih terdengar, kutenangkan dia. Mengusap rambut panjangnya yang terurai. Aku masih ingat, dulu saat masih SD aku pernah memberinya bando berwarna pink karena aku amat menyukai rambut hitamnya. Dan bando berwarna pink itu amat cocok untuknya.
Setelah beberapa menit, aku melepaskan pelukanku. Mataku sedikit berkaca kaca, kuberanikah diri menatapnya.
“Hidup bahagia terus Yes, agar aku juga hidup bahagia.” Ucapku. Dia mengangguk sambil tersenyum meski dengan air mata yang masih menetes. Kuulurkan tanganku menghapus air mata di pipinya.
“Aku pergi dulu.” Ucapku. Dia dengan berat hati mengangguk. Kupeluk dia lagi dengan singkat. Tersenyum padanya. Lalu pergi dari hadapannya.









