mereka menertawakan sajak yang kutulis
katanya laut adalah ujian bagi para raja
namun bagiku iman tak perlu badai
cukup berlabuh di teluk sebuah nama
kini kutulis rindu di pasir yang basah
kupasrahkan pada ombak yang tak pernah diam
telah jauh kulampaui tanjung-tanjung sepi
namun kembali pada penantian yang itu-itu juga
Tuhan, jika laut adalah cermin surga
aku pernah melihatnya sekejap
pada gadis merah yang menyisakan samudera
dan sebuah kehilangan bernama rumah
Ambon, 28 Maret 2026
=================
Fana dalam Nur Syahid
Di samudra sirr-Mu yang tak tersentuh akal
Al-Qur’an berbisik tentang hidup yang tak berakhir
Syahid bukan mati—ia sirna dari diri yang fakir
Lalu tegak sebagai ruh yang Kau hidupkan dalam Nur-Mu yang hadir
Darah mereka bukan merah—ia cahaya yang tumpah
Menulis Asma-Mu pada tanah yang pasrah
Saat jasad rebah, hijab pun runtuh dan musnah
Tinggallah Engkau, Al-Haqq—tanpa bayang, tanpa jarak, tanpa arah
Para mukmin membaca ayat dengan dada yang pecah
Basirah menyala oleh rindu yang berkah
Ingin mati sebelum mati—fana yang indah
Agar saat dipanggil, tiada lagi selain Engkau yang tersisa
Cemburu mereka adalah sunyi yang terbakar zikir
Melihat syuhada hidup dalam limpah yang tak terfikir
Bukan iri pada takdir, melainkan rindu yang mengalir
Pada maqam baqa, saat “aku” lebur dan lenyap terakhir









