Fana dalam Nur Syahid dan Dua Puisi Lain Dino Umahuk

oleh -350 views

Alamat Rindu di Laut yang Retak

alamat rumah kita tenggelam
di laut yang terkutuk
setiap pecahannya adalah gema
janji yang karam sebelum bernama

waktu patah di sela napas
malam melerai degup
di tepian yang dingin
dan pelukan menjelma kabut

masa lalu tinggal bayang—
di jari-jari
yang lupa cara menggenggam

“jangan tunggu aku,” katamu

lorong rumahmu mengerut oleh gelap
langkah kaki menjadi asing
aku tersesat memanggilmu
yang tak lagi bidadari

di luar jendela, angin menulis pulang
dengan aksara yang tercerai hujan
subuh mengirim surat cinta yang terisak
gerimis menyebut namamu tanpa jeda

aku lelaki yang melayari rindu
dayungku luka yang berulang
setiap kayuh menenggelamkan kenangan
ke dasar sunyi yang tak terjamah

saat hujan jatuh, alamat itu kembali—
peta yang tak selesai kubaca

Baca Juga  Ale Su Jau dan Empat Puisi Lain Dino Umahuk

namamu:
jalan pulang
yang tak pernah ada

Ambon, 29 Maret 2026

============

Liturgi Merah di Ujung Tanjung

wahai samudera yang berdenyut oleh garam
engkau menyimpan air mata yang tak kembali
duka para ibu yang larut di lipatan doa
sedangkan aku meniti punggungmu tanpa alamat

dulu kukira penaklukan adalah peta dan nisan
kemenangan yang tumbuh dari kehilangan
hingga di kabut tanjung yang sunyi
kutemukan bayang yang lebih abadi dari pelayaran

seorang gadis berbaju merah di atas jembatan
sederhana seperti asap dapur di pagi hari
dari napasnya lahir warna bagi dunia
dan laut pun diam-diam belajar bernyanyi

No More Posts Available.

No more pages to load.