HANYA API-SEMATA API: Obituary Amarzan Loebis

Penulis: Nezar Patria

Amarzan Ismail Hamid Loebis, atau kerap dipanggil Amarzan Loebis, alias Lian Tanjung, adalah seorang penyair, wartawan, pegiat kebudayaan, yang pada tubuhnya memuat bagasi aneka peristiwa: perseteruan politik kebudayaan Indonesia 1950an, dan tragedi 1965 yang menjadikannya seorang tapol di Pulau Buru.

Generasi milenial hari ini pasti banyak tak mengenalnya. Tapi bayangkanlah dulu ada seorang pemuda 17 tahun rajin menulis puisi dari sebuah kota kecil di Tanjung Balai, dan mengirimkan puisinya ke Lentera, lembar kebudayaan koran Bintang Timur di Jakarta, dan diasuh oleh sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer. Sajak-sajak Amarzan muda, saat itu, memberi warna lain dalam sastra. Pram lalu meliriknya. Dia pindah ke Jakarta, dan dari sana karirnya sebagai penyair kian berkilau.

Pernah bekerja di Harian Rakyat milik partai komunis, dan Amarzan menampilkan warna karya berbeda dari umumnya artikel di koran itu. Laporannya tentang aksi sepihak buruh di Jawa Tengah pada masa 1960an konon menjadi salah satu laporan terbaik koran itu dengan menampilkan drama manusia dalam aksi massa. Puisinya sarat komitmen sosial, tapi jauh dari gaya pemujaan seperti sajak berstempel partai, semisal “di wajah ketua kulihat bulan”. Amarzan menulis kenestapaan petani, dan gairah perjuangan mencari keadilan. Dalam puisinya “Pertjakapan” (1963) misalnya, dia menulis: “… diruangruang pengadilan, nunung/ paman dan bibibibi tani/ dibungkamkan dari tuntutan/ setapak tanah/ … / disini kami bekerdja/ disini kami hidup/ disini kami bertahan!”

Tentu saja ada banyak cerita, dan sengketa, seputar tragedi 1965. Tapi sisihkan dulu bagian politik yang gelap, dan bayangkanlah pemuda Tanjung Balai itu kelak harus membayarnya dengan kehilangan kegembiraan masa muda sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Terlalu getir dikisahkan apa yang terjadi pada dirinya: aneka siksaan dan penistaan martabat manusia, dan temuan ajaib di penjara untuk bertahan hidup. “Otak butuh protein, dan itu ada pada kucing dan tikus,” katanya suatu kali sambil bercerita tentang cara menangkap hewan itu dan menjadikannya santapan agar bertahan hidup di pulau itu.

Saya tak tahu, kelak ketika dia sudah bebas, adakah kegemarannya pada makanan menjadi semacam kompensasi atas masa lalu yang kelam?

Pada suatu kali, awal 2000, ketika dia menjadi guru bagi banyak para wartawan muda Tempo saat media itu bangkit kembali dari breidel Orde Baru, Amarzan kerap mengajak saya makan di Sabtu pagi. Itu adalah hari di mana semua naskah akhir sudah harus masuk ke percetakan. Sebagai redaktur desk nasional, saya sering kebagian menulis cover story, dan Amarzan adalah editornya. Saya terbiasa bergadang dari Jumat malam tembus Sabtu pagi. Hampir saban Sabtu pagi pula, Amarzan mengajak saya makan bakmi ayam di sebuah kedai kegemarannya, Bakmi Megaria. Rupanya dia pelanggan setia di kedai yang dinding putihnya telah kusam, dan di langit-langitnya menempel kipas tua yang warnanya buram dikikis usia.

“Kau lihat si bos itu. Betapa dia meracik mi dengan khidmat. Bertahun-tahun dia lakukan begitu, dengan kenikmatan yang sama”, ujarnya sambil menunjuk si juragan bakmi mengaduk tepung dan menjadikannya sulur-sulur adonan yang panjang. Uap panas rebusan mi menyebar di ruang itu. Saya melihat Amarzan bersemangat menyantap bakmi ayam plus baso ikan, dengan cara unik: dia meracik sesendok kecap, sedikit cuka, dan sambal cabai segar di piring kecil. Baso ikan itu dibelah dengan sendok, dan dengan sumpit dia mencelupkannya ke sambal racikan.

Amarzan menyantapnya dengan perlahan, membelah baso dengan hati-hati, dan tentu saja dia melakukannya dengan cerita yang mengalir, dan selama itu pula saya menyerap berbagai ilmu darinya. Bagi saya ini adalah semacam “kursus tambahan” di luar kelas menulis reguler tiap Selasa bersamanya di Tempo. “Kau tahu Pram itu bukan pengarang biasa. Dia pujangga”, kata dia suatu kali tatkala saya bertanya tentang Pram. “Apa bedanya penulis dengan pujangga?”, saya bertanya. Kata Amarzan, pujangga melihat dunia dengan cara yang berbeda.

“Misalnya begini,” kata Amarzan memulai kuliahnya. “Suatu kali Pram memuji pengemudi Bajaj sebagai hero di tengah jalan raya. Kita mungkin jengkel mungkin dengan Bajaj yang nyelonong seenaknya, kadang dengan satu kaki diangkat ke jendela. Tapi tidak bagi Pram. Bajaj itulah jagoannya. Hanya mereka yang berani melawan bis-bis kota yang besar, dan melakukannya dengan gagah, dan bebas”. Saya terkesima sehingga tak sadar mi di mangkuk Amarzan telah tandas, sementara di mangkuk saya malah tersisa.

Amarzan adalah penyintas tragedi politik yang sepertinya enggan membawa kisah pahit pertemgahan Abad Ke-20 ke pembuka Abad 21. Dia seorang humoris yang pintar menertawakan nasib buruk. Setelah keluar dari Pulau Buru, Amarzan bertemu kembali dengan rekan-rekannya, termasuk mereka yang menjadi lawan Lekra, para pendukung Manikebu. Amarzan seperti sudah berdamai dengan zamannya, dan juga dirinya sendiri.

Goenawan Mohamad, penyair yang juga penandatangan Manikebu yang dulu lawan bagi Amarzan, kelak berkawan akrab dengannya. Kemarin pagi, Amarzan berpulang pada usia 78 tahun. Dia meninggal setelah menderita dampak stroke lebih dari tiga tahun. Di pemakaman, berdiri Goenawan, dan dia memberikan pidato yang tenang dan juga mengharukan. “Kepergian Amarzan meninggalkan lubang besar. Sebuah lubang yang saya kira tak mungkin bisa diisi kembali,” kata Goenawan.

Di atas galian liang lahat berkumpul semua keluarga, sahabat, karib, dan para muridnya. Mata saya basah melihat putra Amarzan, Batara Lubis, melantunkan azan di dalam liang itu persis di kepala ayahnya. Suaranya bergetar oleh kesedihan. Doa-doa dirapalkan. Dan saya teringat dialog kecil tentang Tuhan dengan Amarzan tiga tahun silam. “Tuhan tak pernah meninggalkan kita, manusia lah yang kerap melupakan Tuhan”, ujarnya.

Saya berdoa agar dia mendapat terbaik di keabadian, dan berbisik selamat jalan. Saya berharap pada sore itu arwahnya belum pergi terlalu jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: