Jatimulyo: Desa yang Bangkit dari Laut, Menjaga Sunyi dan Marwah

oleh -17 Dilihat

Saya bertemu Lurah Anom Sucandoro dan Pak Sarijo, seorang Kamituwa yang juga menjabat sebagai Kasi Kesra Kelurahan Jatimulyo—tokoh adat, imam masjid, dan penjaga warisan budaya Dusun Sibolong—di sebuah ruang kecil di kantor kelurahan. Meja dan kursi kayu berwarna hijau, tembok yang tidak mewah tapi bersih. Di atas meja, tersaji tiga cangkir kopi hitam dan sepiring bakwan jagung yang renyah. Di luar, suara gamelan pelan terdengar—seorang warga sedang menyetel nada, menjaga agar alat musik itu tetap hidup.

Kami duduk dalam keheningan yang bukan canggung, tapi penuh hormat. Rokok dibakar perlahan, kopi diseruput dalam jeda yang dalam. Lalu kisah pun dimulai.

“Dulu, belum disebut Jatimulyo,” ujar Pak Anom. “Masih dua desa: Jogerangan dan Jokomulyo. Buyut kami masing-masing ditugasi membuka alas oleh Kerajaan Mataram. Lalu, tahun 1947, dua desa itu disatukan.”

Baca Juga  Bidik Kembali Kursi DPR RI Dapil Maluku, Sarmuji: Golkar Siapkan Umar Lessy dan Maichel Wattimena

Pak Sarijo menimpali, suaranya tenang seperti doa magrib,

“Kami ini bukan pemimpin karena dipilih saja. Kami ini pewaris amanat. Desa ini bukan soal jabatan, tapi soal jiwa.”

Dua garis keturunan buyut itu kini berlanjut dalam dua tokoh ini. Sejarah desa bukan sekadar dongeng, tapi hidup dalam tubuh orang-orangnya. Mereka berbicara lembut, menunduk ketika menyapa, dan tahu letak tutur dalam kehidupan sosial. Di sini, adat dan sopan santun tidak diajarkan lewat buku, tapi dilatih dengan teladan.

No More Posts Available.

No more pages to load.