Jatimulyo: Desa yang Bangkit dari Laut, Menjaga Sunyi dan Marwah

oleh -17 Dilihat

Tak banyak yang tahu, Pak Anom bukan hanya lurah, ia juga seorang dalang. Lakon-lakon pewayangan yang ia pentaskan bukan sekadar hiburan, tapi sarana pewarisan nilai—bagian dari tradisi roh budaya yang diwariskan dari leluhur. Ia tak hanya memimpin desa secara administratif, tapi juga memelihara “suara tanah”—dengan tembang, dengan wayang, dan dengan filosofi hidup.

Pak Anom mendapat dua SK saat dilantik: satu dari Bupati Kulon Progo, sebagai hasil pemilihan warga, dan satu dari Sri Sultan Hamengkubuwono X, sebagai bentuk pengakuan terhadap peran budayanya. Tak semua lurah di Yogyakarta menerima kehormatan seperti itu. Hanya mereka yang dinilai mampu menjaga ruh keistimewaan: budaya musyawarah, budaya tutur, dan tata hidup yang menenangkan.

Baca Juga  Kisah Mimpi Nabi Yusuf AS Melihat 11 Bintang, Matahari, dan Bulan Bersujud

Warga Jatimulyo hidup dalam kesahajaan. Mereka bertani, menggembala kambing, menyadap nira, dan menjemur hasil bumi dalam irama yang tidak tergesa. Namun dalam tutur kata mereka, ada tata. Dalam langkah mereka, ada warisan. Mereka tidak menolak modernitas, tapi menegosiasikannya. Gelar akademik tak berarti jika tak tahu sopan. Jabatan tak mulia jika tak tahu duduk diri.

Tak jauh dari kantor kelurahan, berdiri Gua Kiskendo—tempat yang menyimpan jejak legenda dan kenyataan. Di dalamnya terdapat jejak kaki kerbau, sumelong (lubang tegak alami), batu duduk, dan lorong-lorong batu yang oleh masyarakat diyakini sebagai bagian dari kisah Mahabharata. Di sanalah konon terjadi pertempuran antara Subali dan raksasa Mahesasura.

No More Posts Available.

No more pages to load.