Jatimulyo: Desa yang Bangkit dari Laut, Menjaga Sunyi dan Marwah

oleh -242 views

Oleh: Hermanto, Wartawan senior

Kabut tipis menggantung di sela-sela pohon kapulaga. Udara pagi di lereng Menoreh seperti sepotong puisi yang belum selesai dibaca. Jalan aspal yang meliuk dari Nanggulan ke perbukitan Sibolong terasa seperti menyusuri kitab tua—ada detak yang lambat, ada jeda yang penuh makna. Burung-burung liar bersahutan dari pucuk-pucuk bambu. Jurang menganga di sisi kiri, dan pohon-pohon berdiri sabar di sisi kanan, seperti para tua yang menanti waktu dengan tenang.

Inilah Jatimulyo—sebuah desa yang berdiri di atas sunyi, diresapi embun, dan dirawat oleh adat.

Banyak yang tak menyangka bahwa tanah ini dulu dasar laut. Di sela ladang dan bukitnya, tersimpan cangkang kerang, sirip ikan, dan batuan karang yang menjadi fosil. Penelitian dari para geolog Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa bebatuan di kawasan ini identik dengan formasi batuan dasar Laut Jawa. Bukti itu menyiratkan bahwa Jatimulyo pernah terendam jutaan tahun silam, sebelum perut bumi mendorongnya naik menjadi bukit yang kini berdiri di ketinggian ±600 meter di atas permukaan laut.

Lurah Jatimulyo Anom Sucandoro (kiri) dan Sarijo, Kamituwa yang juga menjabat sebagai Kasi Kesra Kelurahan Jatimulyo

Namun, bukan keajaiban geologis itu yang membuat desa ini dihormati, melainkan cara hidup warganya—sederhana, tapi teguh menjaga marwah.

No More Posts Available.

No more pages to load.