Pertanyaan lanjutannya adalah mengapa hal itu tidak dia lakukan? Hingga saat ini, saya cenderung berpendapat bahwa posisi Prabowo saat ini jauh lebih lemah ketimbang Jokowi di 2019 ketika ia dengan mudah memasukkan teknokrat (sebagian diajukan oleh partai politik juga) dan memberi porsi kecil terhadap partai-partai.
Dalam politik, Anda menjadi penguasa itu berarti Anda memiliki kemampuan untuk memaksa orang lain melakukan apa yang Anda kehendaki. Itu pelajaran Politik 101. Jika Anda tidak mampu, maka sesungguhnya Anda penguasa yang lemah.
Prabowo tidak saja tersandera oleh partai-partai politik — yang berhitung dukungan mereka harus dibalas dengan kursi kabinet — namun ia juga berhitung dengan Jokowi, yang anaknya adalah wakil presidennya dan tentu juga memiliki kepentingan untuk mendudukkan orang-orangnya di pemerintahan.
Melihat semua kenyataan ini, saya mau tidak mau mengatakan bahwa Prabowo akan menjadi presiden yang lemah, yang tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap kekuatan-kekuatan yang menaikkan dia ke kekuasaan. Jika ia benar-benar presiden yang kuat, ia tidak perlu kabinet yang gendut. Ia bisa memaksa orang untuk mengikuti kepemimpinannya. Dia akan menjadi nakoda dari kapalnya sendiri ke tujuan yang ia tetapkan sendiri– bukan kapal yang mengharuskan dia singgah di setiap pelabuhan.







