Soal kedua yang saya lihat adalah bahwa para elit Indonesia sesungguhynya tidak sedikitpun berpikir tentang rakyat dan bangsa ini. Mereka lebih kuatir akan konsesi tambang mereka. bisnis mereka, serta sanak keluarga dan para kroni mereka yang perlu diberi kuasa.
Mau bukti tentang soal ini? Tidak seorang pun dari elit kita mau bicara tentang mahalnya pendidikan, khususnya pendidik tinggi. Bahkan Dirjen Dikti pun mengatakan bahwa pendidikan setingkat universitas adalah ‘tertiary education’ yang tidak dibeayai oleh negara. Itulah dalihnya untuk meliberalisi perguruan tinggi negeri.
Tidak sedikit pun ia sadar bahwa pendidikan tinggi itu diperlukan agar orang mendapat pekerjaan yang lebih baik, gaji lebih baik, kualitas hidup lebih baik, keluarga lebih baik … dan bayar pajak lebih banyak ke negara! Pada akhirnya, orang seperti Ibu Dirjen itu bisa hidup layak karena lebih banyak orang mengenyam ‘tertiary education’ sehingga hidup mereka lebih baik dan bayar pajak lebih banyak! Jadi manfaatnya ke Ibu Dirjen juga.
Sungguh para elit kita memang sama sekali tidak peduli dengan bangsa ini. Mereka hanya mengamankan kepentingan mereka sendiri beserta keluarga dan kroninya.
Pada bulan Juni tahun lalu, majalah The Economist menerbitkan artikel yang berjudul, “Why are Vietnam’s schools so good?” Artinya, mengapa sekolah-sekolah Vietnam sangat baik? Majalah itu memberikan beberapa jawaban, antara lain yang terpenting adalah guru-guru Vietnam yang terus menerus diberikan pelatihan dan diberi kebebasan berimprovisasi di kelas. Skor STEM (sains, teknologi, enginering/teknik, dan matematika) siswi-siswa Vietnam termasuk yang terbaik di dunia.








