Kopi Tanpa Gula

oleh -59 views
Link Banner

Cerpen Karya: Etik Septi Virgianthi

Dari mana harus aku mulai, jika semua terasa pahit. Adakah yang masih ingin tahu sebuah rasa yang sudah jelas ini pahit?. Adakah yang akan terus mencoba meminum sampai habis padahal sudah jelas ini sangat pahit?. Masihkah ada orang yang bertahan sampai tetes terakhir yang begitu pahit?. Jawabannya ‘Ya, ada’. Itu aku yang sangat menyukai kopi tanpa gula.

Aku yang selalu dianggap aneh karena menyukai hal yang tidak semua orang suka. Aku lebih memilih menikmati pahitnya kopi daripada manisnya teh. Setiap kali aku meminum kopiku, orang disekitarku pasti bertanya ‘Bagaimana rasanya? Pahit sekali bukan?’ aku hanya menjawab dengan senyuman. Rasa pahit yang sudah aku cicip selama bertahun-tahun sudah terasa hambar buatku. Lidahku sudah sangat bersahabat dengan rasa itu.

Tidak satu pun orang yang paham, kenapa aku sangat menikmati kopi ini. Mereka hanya tahu aku orang yang tak memiliki selera rasa yang baik. Karena itu, aku merasa aku tidak pantas untuk memiliki seorang teman. Aku takut, mereka tidak menerima kalau aku menyukai kopi tanpa gula. Setiap hari aku habiskan dengan kesendirian. Akankah ada yang mengerti bahwa ini hanya sebuah selera?.

Aku masih sama dengan kalian. Seorang manusia yang juga butuh teman untuk berbagi rasa suka dan duka. Aku tidak sekuat itu. Aku hanya membohongi diriku bahwa rasa kopi tanpa gula itu nikmat. Aku memilih kopi karena aku sudah lelah dengan rasa manis yang membuat tubuhku melemah. Aku sebenarnya sudah muak dengan kepahitan ini, tapi aku takut apakah masih ada rasa manis yang tidak membuat tenggorokanku sakit?. Beritahu aku.

Sampai saat ini aku masih saja termenung di sebuah taman kota, tentunya hanya ditemani secangkir kopi. Aku perhatikan sekitar, semuanya nampak bahagia. Disitu aku merasa kopiku mulai terasa manis. Hanya dengan melihat seorang tertawa riang sudah cukup buatku. Lalu tiba-tiba, orang tak dikenal menghampiriku. Ia bertanya.

“Boleh aku ikut menikmati kopi tanpa gula ini, agar kamu tidak sendirian merasakan pahit ini?”, kemudian aku jawab “Boleh”. Setelah ia meminum kopiku, kami pun saling menertawakan rasa pahit ini. Hahaha. Sepertinya ini bukan kopi, katanya. Aku hanya mengangguk pelan “Iya, ini bukan tentang kopi tanpa gula”. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.