Porostimur.com, Den Haag – Perdana Menteri Belanda, Dick Schoof, mengumumkan pengunduran dirinya pada Selasa (3/6/2025) setelah pemerintahan koalisi yang dipimpinnya runtuh akibat penarikan dukungan dari pemimpin sayap kanan Geert Wilders.
Dalam pertemuan yang bertujuan menyelamatkan koalisi empat partai, Geert Wilders, pemimpin Partai Kebebasan (PVV), menyatakan bahwa ia tidak punya pilihan selain menarik para menterinya dari kabinet. Hal ini dipicu oleh ketidaksepakatan terkait kebijakan imigrasi yang lebih ketat yang ia usulkan.
“Keputusan Wilders adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak perlu,” tegas PM Schoof dalam pernyataannya.
Dick Schoof, yang baru mulai menjabat pada Juli 2024, menyampaikan bahwa ia akan segera mengajukan pengunduran diri kepada Raja Willem-Alexander, dan melanjutkan tugas sebagai pemimpin pemerintahan sementara hingga terbentuk kabinet baru.
Sementara itu, Geert Wilders menegaskan bahwa dirinya akan memimpin PVV dalam pemilu mendatang dan berharap dapat menjadi perdana menteri berikutnya. Ia menyebut keputusan meninggalkan koalisi sebagai langkah akibat kurangnya dukungan terhadap agenda migrasi ketat yang diajukan PVV.
Ketegangan dalam pemerintahan meningkat sejak akhir Mei, saat Wilders menggelar konferensi pers mendadak untuk mengungkapkan bahwa ia telah kehilangan kesabaran terhadap koalisi pemerintahan. Ia mengancam akan menarik diri jika koalisi tidak segera mengadopsi rencana 10 poin pembatasan imigrasi.




