Pada saat Ahok dan Ganjar menjadi Gubernur, hal yang sama terjadi, banyak kebijakan yang membuat PDIP menjauh dari wong cilik, sebut saja penggusuran warga di kampung akuarium dan wadas.
Sebagai rakyat kecil kita rindu keberpihakan PDIP kepada rakyat, sebagaimana 27 tahun yang lalu. Namun saat ini, kerinduan itu mungkin hanya sebuah kerinduan yang tak akan pernah bisa ada, karena soliditas dan kepekaan itu hampir sudah tidak ada. Jangankan terhadap rakyat, terhadap partainya saja yang dikuyo kuyo tak ada lagi teriakan protes dan perlawanan. Bahkan terkesan tak berdaya.
Peristiwa 27 tahun yang lalu dimana PDI yang kemudian menjelma menjadi PDIP terulang kembali, seolah angka 27 ini menjadi kutukan, Mengalami kembali masa penistaan dan dikuyo kuyo oleh kekuasaan. Namun sayangnya tak ada lagi kepekaan apalagi perlawanan, ya karena mereka sudah merasakan manisnya kekuasaan. Masihkah kita sebagai rakyat berharap? Jangankan kepada kita, kepada partainya saja tak bisa lagi membela. Saatnya PDIP menjadikan perubahan sebagai semangatnya.
Angka 27 bagi PDIP bisa bermakna dua, yang pertama sebagai kutukan karena ditanggal 27 dan ditahun ke 27 peristiwa penistaan partai terjadi kembali, yang kedua sebagai pengingat, sebagai partai yang mengusung jargon wong cilik, seharusnya PDIP harus dekat dengan rakyat bukan malah menjauh dan hanya mengurusi kelompoknya saja, bukankah kalian lahir karena rakyat?








