Londo Ireng dan Ingatan yang Tidak Pernah Mati

oleh -68 Dilihat

Ada “anti-pembangunan”.

Ada “anti-Pancasila”.

Ada “provokator”.

Kini muncul lagi istilah lama yang dipinjam dari sejarah: londo ireng.

Nama boleh berubah.

Polanya tetap sama.

Ketika jawaban mulai habis, label mulai diproduksi.

Ketika argumentasi melemah, identitas lawan dipersoalkan.

Yang diperdebatkan bukan isi kritiknya.

Melainkan siapa yang mengatakannya.

Padahal sebuah kritik tidak menjadi salah hanya karena disampaikan wartawan.

Sebagaimana sebuah pujian tidak otomatis benar hanya karena keluar dari mulut pejabat.

Ada pertanyaan yang lebih layak diajukan kepada kekuasaan.

Apakah kritik benar-benar menjadi ancaman?

Ataukah justru kritik sedang dibutuhkan karena negara menghadapi begitu banyak persoalan yang belum menemukan jawaban memadai?

Ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Baca Juga  Tersandung Karma “Detik Lengah” Pembuka Aib Kejahatan”

Lapangan kerja yang semakin sempit.

Daya beli masyarakat yang melemah.

Program-program besar yang masih menyisakan masalah implementasi.

Bukankah jauh lebih produktif menjawab semua itu dengan kebijakan daripada dengan retorika tentang musuh-musuh bangsa?

Negara tidak membutuhkan kambing hitam.

Negara membutuhkan keberanian mengakui kekurangan.

Dalam pidato yang sama, Presiden menyinggung media yang lebih suka memotret sekolah rusak daripada ribuan sekolah yang telah diperbaiki.

No More Posts Available.

No more pages to load.