Bukan untuk menutup pintu investasi.
Bukan untuk menghentikan industri.
Bukan pula untuk menolak hilirisasi.
Melainkan untuk memastikan bahwa semua itu bekerja sebagaimana mestinya: menjadikan kekayaan alam sebagai jalan menuju kesejahteraan rakyat.
Investasi boleh mengalir.
Industri boleh tumbuh.
Hilirisasi harus berjalan.
Tetapi rakyat Maluku Utara tidak boleh tersisih dari masa depan ekonominya sendiri.
Sebab kekayaan yang paling berharga dari Maluku Utara pada akhirnya bukanlah nikel, emas, atau mineral yang terkandung di dalam buminya, melainkan manusia yang hidup di atasnya. (**)







