Hilirisasi harus membawa transformasi yang lebih luas.
Smelter boleh berdiri. Kawasan industri boleh berkembang. Pabrik boleh bertambah.
Tetapi pertanyaan berikutnya harus selalu diajukan:
Siapa yang tumbuh bersama industri itu?
Berapa banyak UMKM lokal yang menjadi pemasok? Berapa banyak pemuda Maluku Utara yang memperoleh sertifikasi dan keahlian? Berapa banyak perusahaan lokal yang mampu masuk ke rantai pengadaan? Berapa banyak pengusaha daerah yang naik kelas? Berapa besar uang yang berputar kembali di tengah masyarakat?
Jika industri besar tumbuh tetapi sebagian besar rantai pasoknya tetap bergantung pada perusahaan dari luar, maka hubungan industri dengan ekonomi lokal belum cukup kuat.
Dalam situasi seperti itu, hilirisasi berisiko berhenti pada hilirisasi produksi, tanpa mencapai hilirisasi kesejahteraan.
Padahal tujuan akhir pembangunan bukan sekadar membuat produk bernilai tambah lebih tinggi.
Tujuan akhirnya adalah membuat manusia yang hidup di sekitar pusat produksi menjadi lebih bernilai, lebih berdaya, dan lebih sejahtera.
Pemerintah Harus Mengukur Apa yang Tinggal
Di tengah derasnya arus investasi, pemerintah daerah tidak cukup hanya menjadi penyambut investasi.
Pemerintah harus menjadi pengarah sekaligus pengawas.
Setiap investasi perlu dievaluasi bukan hanya berdasarkan nilai modal yang masuk, tetapi berdasarkan nilai ekonomi dan sosial yang tinggal di daerah.







