Oleh: Riswan Sanun, Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Mahasiswa Pascasarjana Maluku Utara (FORMAPAS MALUT)
Ada ironi yang sedang tumbuh di Maluku Utara. Di satu sisi, provinsi ini semakin penting dalam peta industri mineral nasional. Investasi mengalir, kawasan industri berkembang, smelter berdiri, dan hilirisasi menjadi mantra pembangunan yang terus digaungkan.
Di sisi lain, pertanyaan paling sederhana justru belum memperoleh jawaban yang memuaskan: ketika kekayaan alam Maluku Utara semakin banyak dieksploitasi, seberapa besar kesejahteraan yang benar-benar tinggal di daerah ini?
Pertanyaan itu penting karena pembangunan pada akhirnya bukan tentang seberapa besar modal yang masuk, melainkan tentang seberapa jauh modal tersebut mengubah kehidupan masyarakat.
Maluku Utara sedang berada di persimpangan sejarah. Pilihannya bukan antara investasi dan penolakan terhadap investasi. Pilihannya adalah antara membiarkan pertumbuhan ekonomi berjalan dengan logikanya sendiri atau memastikan bahwa pertumbuhan tersebut menjadi jalan menuju keadilan sosial dan ekonomi.
Di sinilah perdebatan tentang investasi, pertambangan, dan hilirisasi harus ditempatkan.
Pertumbuhan Ekonomi Bukan Akhir dari Pembangunan
Tidak ada yang menyangkal pentingnya investasi.







