Sementara program ini memberi harapan baru bagi para warga, pemerintah Tuvalu tetap berupaya mempertahankan eksistensi negaranya. Berbagai proyek reklamasi daratan dan pembangunan infrastruktur pesisir terus dilakukan guna memperkuat daya tahan wilayah terhadap ancaman iklim ekstrem.
Pemerintah Tuvalu menekankan bahwa skema migrasi Falepili Union bukanlah jalan satu arah. Sebaliknya, visa tersebut diharapkan bisa digunakan untuk memfasilitasi warga yang ingin belajar dan mengembangkan keterampilan di Australia, lalu kembali membangun tanah air mereka.
Namun demikian, menurut Jess Marinaccio, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri Tuvalu yang kini menjadi asisten profesor di California State University, tingginya minat warga terhadap program ini mengindikasikan potensi terjadinya migrasi besar-besaran.
“Meski hanya tersedia 280 visa per tahun, tingginya minat menunjukkan bahwa warga akan terus mengajukan visa. Hal ini bisa mempersulit upaya penyelamatan Tuvalu,” jelasnya.
Berdasarkan laporan NASA’s Sea Level Change Team, Tuvalu yang terdiri dari sembilan atol koral telah mengalami kenaikan permukaan laut sebesar 15 cm dalam 30 tahun terakhir, naik 1,5 kali lebih cepat dari rata-rata global. Proyeksi NASA menyebutkan bahwa pada 2050, sebagian besar wilayah Tuvalu seluas 26 kilometer persegi akan berada di bawah permukaan rata-rata pasang naik, termasuk seluruh infrastruktur vitalnya.




