Pengrusakan Hutan Atas Nama Pembangunan

oleh -93 views

Oleh A. Malik Ibrahim, Kolumnis

Ketika tutupan hutan di Indonesia terus menyusut dari tahun ke tahun, narasi resmi pemerintah sering menenangkan publik dengan klaim bahwa “deforestasi menurun” atau “reforestasi meningkat”. Klaim ini terdengar meyakinkan, tetapi dari perspektif ekologis, ia hanyalah tipuan statistik. Hilangnya hutan primer—hutan yang terbentuk selama ratusan hingga ribuan tahun—menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa dipulihkan oleh program penanaman ulang.

Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah sistem hidup yang kompleks, tempat interaksi ribuan spesies terjadi secara seimbang, sekaligus pengatur siklus air dan penyangga perubahan iklim lokal. Ketika hutan primer dibabat untuk tambang, perkebunan, atau infrastruktur, yang hilang bukan sekadar pohon. Yang hilang adalah seluruh jaringan ekologis yang menopang kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati.

Baca Juga  Dorong Mekanisasi dan Produktivitas Pertanian, Gubernur Maluku Serahkan 12 Traktor Roda 4

Sumatra: Banjir Bukan Sekadar Hujan Ekstrem

Contohnya, Sumatra. Banjir bandang yang menghantam pemukiman tidak bisa disederhanakan sebagai akibat hujan ekstrem semata. Aktivis lingkungan di Batang Toru, Sumatra Utara, menunjukkan bahwa degradasi hutan di hulu sungai menyebabkan aliran deras langsung menimpa hilir. Pohon-pohon besar yang dulu menyerap air dan memperlambat aliran permukaan telah lenyap. Tanah tidak lagi menyimpan air, sungai meluap, tebing runtuh, dan material kayu sisa pembalakan terbawa arus. Pola ini berulang di banyak wilayah, menegaskan satu fakta sederhana: hilangnya hutan primer adalah katalisator bencana ekologis.

No More Posts Available.

No more pages to load.