Relasi Prabowo-Jokowi Pasca Skandal Penyadapan

oleh -37 Dilihat

Oleh: Lukas Luwarso, Jurnalis senior dan kolumnis

Jokowi memang sudah meninggalkan Istana, tetapi warisan jejaring kekuasaannya masih ada. Prabowo kini menduduki istana, tapi tidak menguasai sepenuhnya instrumen dan aparat negara. Ini pelajaran penting dari terbongkarnya skandal penyadapan yang dilakukan sejumlah jendral polisi. Ini soal seni berkuasa: bukan siapa pemegang kekuasaan, melainkan siapa pengendalinya.

Satu fakta ironis yang membuat skandal ini menarik. Prabowo baru saja memberikan kepercayaan kepada Jendral Listyo Sigit untuk mengepalai Kantor Staf Presiden (KSP), duduk di lingkaran paling dekat dengannya. Mantan Kapolri yang menjadi bagian penting dari arsitektur kekuasaan era Jokowi, dipertahankan di lingkaran terdalam pemerintahan Prabowo, sebagai simbolik “politik keberlanjutan”. Tapi justru di sini episentrum gempa tektonik politik terjadi. Ini kisah klasik pengkhianatan politik “orang dalam”.

Baca Juga  Pengurus Pusat JMSI Kecam Dugaan Intimidasi Wartawan TV One di Polres Aru

Pernah terjadi di Jerman (Barat) di era perang dingin, 1974. Günter Guillaume, asisten pribadi Kanselir Willy Brandt, ternyata adalah agen rahasia Jerman Timur (Stasi). Brandt mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab politik atas skandal ini. Di Perancis, pada 1983-1986, skandal penyadapan terhadap 114 individu yang dianggap mengganggu kepentingan keamanan terungkap. Pengadilan menjatuhkan hukuman kepada aparat pelaku yang terkait dengan pemerintahan Presiden Mitterrand.

No More Posts Available.

No more pages to load.