Porostimur.com, Yangon – Sedikitnya 2.500 tentara telah meninggalkan posisinya di militer Myanmar sejak kudeta pemerintahan sipil di negara itu, untuk bergabung dengan kelompok perlawanan.
Hal ini diungkapkan Tentara Rakyat (People’s Soldiers), sebuah organisasi yang bekerja untuk membantu pasukan meninggalkan kesatuannya di militer Myanmar (Tatmadaw).
Berbagai alasan membuat para tentara ini memilih bergabung dengan kelompok perlawanan, salah satunya didorong nurani mereka menolak perintah menyerang dan membunuh warga sipil.
Salah satunya adalah seorang perwira berpangkat kapten di militer Myanmar Pyae Sone Oo. Pada pertengahan April 2021, ia mendapat perintah dari atasannya untuk mengumpulkan 25 tentara infanteri di bawah komandonya untuk menyerang pengunjuk rasa anti-kudeta keesokan paginya.
Saat itu, ia bertugas di pangkalan militer di dekat kota Dawei di Myanmar tenggara. Pemikiran kemungkinan membunuh warga sipil yang tidak bersalah sangat mengganggunya.
“Saya tahu bahwa saya tidak bisa memerintahkan tentara saya untuk melakukan kebrutalan seperti itu pada warga sipil,” kata pria berusia 30 tahun itu kepada Al Jazeera melalui telepon.
Jadi, begitu fajar menyingsing pada 15 April 2021, Pyae Sone Oo menyelinap dari pangkalan militernya. Jantungnya berdebar kencang, dia menaiki pesawat kecil yang akan menerbangkannya ke wilayah yang dikuasai pemberontak.




