Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Narasi, media yang dibesut Najwa Shihab, kini beralih di bawah kendali Grup Djarum melalui PT Global Digital International (GDI). Nilai transaksinya tidak diumumkan. Tetapi justru kerahasiaan angka itu membuat pertanyaan lain menjadi lebih menarik: apa sebenarnya yang dibeli ketika sebuah konglomerasi mengambil alih sebuah media yang selama ini dikenal kritis?
Apakah yang dibeli sekadar sebuah perusahaan media? Ataukah juga reputasi, kepercayaan publik, audiens, jaringan, dan posisi strategisnya dalam membentuk percakapan publik?
Sebab media bukan sekadar mesin yang memproduksi berita. Ia juga mesin yang memproduksi pengaruh.
Sampai di sini, sebenarnya tidak ada yang aneh. Sebuah perusahaan dibeli perusahaan lain. Modal berpindah, kepemilikan berubah, dan secara hukum transaksi itu sah.
Tetapi media bukan perusahaan biasa.
Sebuah pabrik menghasilkan barang. Sebuah bank mengelola uang. Sebuah perusahaan teknologi menjual layanan. Sementara media menghasilkan sesuatu yang jauh lebih sulit dihitung: pengaruh.
Narasi memiliki nama, reputasi, audiens, jaringan, dan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Ia bukan sekadar ruang tempat berita diproduksi, melainkan ruang tempat publik diajak melihat persoalan, mempertanyakan kekuasaan, dan menentukan apa yang dianggap penting.








