Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas, visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Pagi tadi, saat kesadaran saya belum melek benar, sebuah pesan masuk di hape. “Andrie disiram air keras semalam.” Saya tersentak. Saya buka pesan di beberapa aplikasi. Hampir semua isinya berita yang sama.
Reaksi pertama saya adalah menghubungi beberapa teman untuk konfirmasi. Beberapa menceritakan dengan detail. Pelan-pelan, ada kemarahan meluap. Setelah itu, rasa tidak berdaya. Ini adalah dua perasaan yang paling sering saya hadapi pada tahun-tahun masa Orde Baru.
Banyak sekali kejadian yang mengusik rasa keadilan. Itu membuat marah namun kemudian diiringi perasaan tidak berdaya luar biasa. Mau mengadu pada siapa? Mencari perlindungan? Lupakan! Apalagi mencari keadilan.
Teman lain bercerita bahwa peristiwa jahanam itu dilakukan setelah Andrie pulang dari rekaman siniar (podcast) di kantor YLBHI. Ini menambah syok saya. Karena saya adalah bagian dari YLBHI, ini seperti serangan kepada anggota keluarga sendiri.
Terus terang, saya mengagumi Andrie. Anak muda satu ini, menurut saya sangat berani. Publik Indonesia tidak akan tahu akan pembahasan RUU TNI kalau saja Andrie dan beberapa kawan tidak mendobrak hotel super mewah (Kempinsky) tempat rapat RUU tersebut. Pembahasan dilakukan secara rahasia, diam-diam, untuk meminimalkan resistensi publik.









