Kursi dibagikan bukan berdasarkan kemampuan, melainkan kebutuhan politik.
Ada yang diangkat karena berjasa saat kampanye. Ada yang diberi tempat agar tidak berisik di luar. Ada yang dimasukkan supaya kelompok tertentu merasa dihargai.
Ada pula yang dipilih semata karena aman, artinya tidak terlalu pintar untuk membahayakan, dan tidak terlalu mandiri untuk menyusahkan.
Seorang ahli pertanian bisa kalah oleh ahli lobi. Pakar komunikasi bisa tersingkir oleh pembuat kegaduhan.
Orang yang bertahun-tahun mengurus lingkungan hidup bisa dikalahkan oleh orang yang baru tahu beda hutan lindung dan hutan kota setelah dilantik.
Tetapi kita diajarkan untuk tidak sinis.
Kita diminta percaya bahwa semua keputusan telah melalui pertimbangan mendalam.
Bahwa setiap nama dipilih secara cermat, objektif, dan demi masa depan bangsa.
Bahwa jika seorang tokoh yang sepanjang hidupnya mengurus satu bidang mendadak dipindah ke bidang lain yang sama sekali asing, itu bukan salah penempatan, melainkan bukti keluasan talenta.
Di negeri ini, ketidaksesuaian sering dipasarkan sebagai fleksibilitas.
Seorang yang komunikasinya buruk bisa dlantik tanpa risih akan tabiatnya.
Seorang yang tak paham substansi bisa disebut cepat belajar. Seorang yang minim prestasi bisa disebut tokoh lapangan.









