Betapa ironisnya sebuah republik: demokrasi dirayakan di podium, konstitusi dikutip dalam pidato, reformasi birokrasi dipromosikan dalam dokumen, tetapi di belakang panggung para patron sibuk memelihara barisan dan berebut wilayah pengaruh. Rakyat diminta percaya bahwa semua itu demi stabilitas negara, sementara negara justru diperlakukan seperti barang rampasan.
Negara bukan perusahaan keluarga. Birokrasi bukan perkumpulan loyalis. Kepolisian bukan pasukan partisan. Dan republik bukan kandang tempat para patron memelihara centeng untuk saling berhadapan.
Sebab, ketika negara dijadikan alat oleh para pemegang kuasa, jangan heran jika pada akhirnya para pemegang kuasa itu sendiri justru menjadi sandera dari alat yang mereka bangun. (**)









