Pada akhirnya, satu tahun perjalanan KBC bukan alasan untuk terlalu cepat berbangga.
Ia justru menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa semua ini dimulai?
Jawabannya mungkin tidak rumit.
Untuk buku.
Untuk percakapan.
Untuk pengetahuan.
Untuk kebudayaan.
Dan untuk menjaga agar selalu ada ruang kecil tempat orang dapat berpikir tentang dunia dan dirinya sendiri.
Panjang Umur Hal-Hal Baik
Saya pernah menulis puisi “Selamat Datang September” di Taar. Salah satu penggalannya berbicara tentang sesuatu yang tumbuh dari kuncup kecil:
Kuncup itu terbuka pelan,
kelopaknya ranum nan indah jelita.
Wanginya membuat segala prasangka lenyap.
Barangkali begitulah seharusnya sebuah komunitas tumbuh.
Tidak perlu tergesa-gesa menjadi besar. Cukup bertumbuh, dirawat, dan memberi manfaat.
Maka peringatan satu tahun KBC bukanlah garis akhir. Ia hanya sebuah jeda untuk menengok perjalanan sebelum kembali berjalan.
Sebab literasi tidak memiliki garis finis.
Selalu ada buku berikutnya. Selalu ada percakapan berikutnya. Selalu ada generasi berikutnya yang harus diberi ruang untuk membaca dan berpikir.
Siang 1 September 2026, Ketua Kei Book Club, Susan Renel, menulis sebuah kalimat sederhana di grup WhatsApp:
“Panjang umur hal-hal baik, panjang umur Kei Book Club.”









