Laporan dari keluarga pelaut dan sejumlah jurnalis militer menggambarkan persoalan kualitas hidup di atas kapal, mulai dari makanan, fasilitas sanitasi, laundry hingga persoalan pipa dan munculnya jamur di sejumlah area.
Klaim tersebut menjadi semakin penting karena perang bukan hanya membutuhkan persenjataan.
Kapal perang membutuhkan suku cadang, bahan bakar, makanan, air, perawatan dan awak yang secara fisik maupun psikologis mampu menjalankan tugas.
Ketika satu mata rantai terganggu, kemampuan tempur keseluruhan ikut terdampak.
Masalah logistik juga disebut semakin berat setelah fasilitas pendukung armada AS di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan yang oleh sumber-sumber Iran dikaitkan dengan operasi balasan Teheran.
Bahrain merupakan lokasi penting bagi kehadiran militer Amerika di kawasan, termasuk markas Armada Kelima AS.
Jika fasilitas pendukung tersebut benar-benar mengalami kerusakan signifikan, konsekuensinya bukan sekadar kerusakan bangunan. Gangguan terhadap infrastruktur logistik dapat memaksa kapal-kapal Amerika bergantung pada jaringan pasokan yang lebih jauh.
Salah satu fasilitas yang disebut dalam konteks tersebut adalah Diego Garcia di Samudra Hindia, yang berjarak ribuan kilometer dari kawasan konflik.









