Tak Bisa Ikuti Tren Perang Modern, Angkatan Laut AS Kini Kian Terpuruk

oleh -89 Dilihat
Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 justru membuka pertanyaan besar tentang kemampuan armada laut Amerika mempertahankan dominasi di kawasan.

Laporan dari keluarga pelaut dan sejumlah jurnalis militer menggambarkan persoalan kualitas hidup di atas kapal, mulai dari makanan, fasilitas sanitasi, laundry hingga persoalan pipa dan munculnya jamur di sejumlah area.

Klaim tersebut menjadi semakin penting karena perang bukan hanya membutuhkan persenjataan.

Kapal perang membutuhkan suku cadang, bahan bakar, makanan, air, perawatan dan awak yang secara fisik maupun psikologis mampu menjalankan tugas.

Ketika satu mata rantai terganggu, kemampuan tempur keseluruhan ikut terdampak.

Masalah logistik juga disebut semakin berat setelah fasilitas pendukung armada AS di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan yang oleh sumber-sumber Iran dikaitkan dengan operasi balasan Teheran.

Bahrain merupakan lokasi penting bagi kehadiran militer Amerika di kawasan, termasuk markas Armada Kelima AS.

Baca Juga  Dugaan Pengancaman dengan Parang di Pantai Hunimua Dilaporkan ke Polda Maluku

Jika fasilitas pendukung tersebut benar-benar mengalami kerusakan signifikan, konsekuensinya bukan sekadar kerusakan bangunan. Gangguan terhadap infrastruktur logistik dapat memaksa kapal-kapal Amerika bergantung pada jaringan pasokan yang lebih jauh.

Salah satu fasilitas yang disebut dalam konteks tersebut adalah Diego Garcia di Samudra Hindia, yang berjarak ribuan kilometer dari kawasan konflik.

No More Posts Available.

No more pages to load.