Porostimur.com, Washington – Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 justru membuka pertanyaan besar tentang kemampuan armada laut Amerika mempertahankan dominasi di kawasan.
Alih-alih tampil sebagai kekuatan laut yang leluasa bergerak di sekitar perairan Iran, armada AS disebut menghadapi kombinasi persoalan yang semakin kompleks: ancaman rudal dan drone Iran, panjangnya jalur logistik, insiden kecelakaan kapal, tekanan terhadap awak, hingga persoalan moral yang diklaim mulai menggerogoti pasukan.
Sejumlah laporan yang dikutip media Iran menggambarkan perang tersebut sebagai ujian berat bagi Angkatan Laut AS. Teheran mengklaim kemampuan anti-access/area denial atau A2/AD yang dimilikinya telah memaksa kapal-kapal perang Amerika menjaga jarak dari garis pantai Iran dan mengandalkan serangan dari wilayah yang relatif lebih aman.
Di sisi lain, Pentagon selama ini membantah sejumlah klaim Iran mengenai kerusakan maupun serangan terhadap kapal perang AS.
Perbedaan narasi itu membuat perang di laut tidak hanya menjadi pertarungan rudal, kapal perang dan drone, tetapi juga pertarungan informasi mengenai seberapa efektif masing-masing pihak mempertahankan kemampuan militernya.









