Tak Bisa Ikuti Tren Perang Modern, Angkatan Laut AS Kini Kian Terpuruk

oleh -78 Dilihat
Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 justru membuka pertanyaan besar tentang kemampuan armada laut Amerika mempertahankan dominasi di kawasan.

Jalur pasokan yang semakin panjang berarti waktu tempuh bertambah, kebutuhan perencanaan meningkat, dan biaya mempertahankan operasi ikut membengkak.

Dalam perang yang berlangsung berbulan-bulan, persoalan semacam itu dapat berubah menjadi masalah strategis.

Kecelakaan, Kelelahan dan Persoalan Moral di Tengah Perang

Tekanan terhadap armada AS juga tercermin dalam sejumlah insiden yang melibatkan kapal perang Amerika selama 2026.

USS Gerald R. Ford, misalnya, mengalami kebakaran di ruang cuci utama pada 12 Maret ketika beroperasi di Laut Merah.

Angkatan Laut AS menggambarkan insiden tersebut sebagai kecelakaan yang tidak berkaitan dengan pertempuran. Namun, laporan mengenai sejumlah pelaut yang harus mendapat perawatan akibat paparan asap serta terganggunya fasilitas tidur menunjukkan bahwa kecelakaan di kapal perang dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak kecil.

Baca Juga  Hari Kesaktian Pancasila, Rektor Unpatti Tekankan Penghayatan Nilai Pancasila di Kampus

Kapal lain, USS Zumwalt, juga dilaporkan mengalami kebakaran pada April.

Kemudian pada 24 Juli, USS Benfold mengalami kehilangan daya selama beberapa hari. Gangguan tersebut disebut berdampak pada kebutuhan dasar sekitar 300 pelaut, termasuk air, makanan, toilet dan pendingin udara.

Kapal itu akhirnya harus ditarik menuju Teluk Subic, Filipina, untuk menjalani perbaikan.

Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan seluruh insiden tersebut disebabkan oleh serangan Iran.

No More Posts Available.

No more pages to load.